Rabu, 09 Maret 2011

Karena Dia Telah Membuatmu Bahagia

Cinta adalah memperhatikan dan memberi.
Tanpa berharap untuk diperhatikan dan diberi.
Akan tiba saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang.
Bukan karena kita putus asa mencintainya.
Melainkan...
Karena kita menyadari bahwa orang yang kita cintai akan lebih bahagia apabila kita melepaskannya.
Lebih baik kehilangan harga diri dan egomu bersama seseorang yang Engkau cintai.
Daripada kehilangan seseorang yang Engkau cintai karena egomu yang tak berguna itu.
Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya.
Tetapi... Sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika Kau masih mau mencoba.
Jangan pernah menyerah jika Kau masih merasa sanggup.
Jangan pernah mengatakan Kau tidak mencintainya lagi jika kau masih tidak dapat melupakannya.
Membuka seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan Dia akan membalas cintamu.
Jangan mengharapkan balasan cinta.
Tunggulah sampai cinta tumbuh dan berkembang dihatinya.
Tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.

Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang.
Sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang.
Tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis.
Mereka yang disakiti hatinya.
Mereka yang mencari.
Dan mereka yang mencoba,
Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

Kamu Bukan Untukku

Kamis, 17 Februari 2011
Pukul. 00.38 WIB lewat tengah malam dalam kesendirian.

Kemarin aku dengar kabar tentang kamu yang sedikit kurang enak badan karena sakit. Aku berniat untuk membesukmu dengan kenyataan bahwa aku benar-benar merindukanmu. Padahal baru saja Senin malam kemarin menjadi saksi bahwa aku telah bertemu denganmu untuk mengobati sedikit rindu. Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan pulang kita menuju rumahmu seakan menemani kita berdua untuk selalu diberkahi oleh cinta kasih. Aku bahkan tidak sadar kalau hujan malam itu menjadi  pertanda bahwa akan ada air mata yang jatuh malam ini. Dan inilah akhir dari cerita antara Aku dan Kamu.

Kenangan terakhir saat Valentine’s Day.
Ingatkah kamu ketika malam itu adalah malam hari kasih sayang bagi semua orang di muka bumi ini ? Ah, mungkin bagimu hari itu tak ada yang istimewa sama sekali sama seperti pikiranku sebelumnya. Aku tak punya siapa-siapa untuk berbagi kasih sayang walau sempat mendapatkan kado berupa pajangan blue dolphin dari hasil tukar kado teman-teman dikantor. Cukup membuatku tersenyum. Hingga aku memutuskan untuk menjemputmu pulang kerumah setelah mendapatkan pesan singkat dari hasil chatting dengan gurauan berupa sebatang coklat sebagai ongkos ojeknya. Aku sangat mengharapkan makanan manis itu untuk menemaniku melalui sang malam. Kamu cantik bahkan begitu cantik bagiku. Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya ketika kamu mencium pundakku hanya untuk merasakan sedikit wangi parfum laut yang selalu aku gunakan ketika hujan menerpanya menjadi samar. Tahukah kamu, aku sangat merindukan perlakuanmu yang begitu terhadapku. Aku merasakan damai ketika kamu memelukku untuk bertahan diri dari hujan.

“Ini adalah coklat pertama dan terakhir”, katamu setibanya dirumah. Mendengarnya aku lalu tersenyum senang.  Aku senang karena hanya aku yang akan dapatkan coklat itu. Ya, cuma aku saja. Oh dan sebungkus keripik kentang kesukaanku menjadi satu bonus kebahagiaan tambahan bagiku. Bahkan seseorang disana yang jelas mempunyai status hubungan denganmu tak mendapatkan kesempatan baik itu. Aku sungguh menikmati malam kebersamaan bersamamu dan keluargamu hingga larut malam hampir menunjukkan pukul 00.00  WIB tengah malam. Aku pun pulang dengan perasaan benar-benar merasa hidup kembali malam itu. Agar kau tahu, kusimpan rapi coklat itu dalam lemariku agar tak seorangpun tahu keberadaannya bahkan tidak untuk seekor semutpun. Akupun sempat meninggalkan sebuah buku novel berjudul “Percintaan Angin” yang sejujurnya aku minta maaf telah berbohong karena belum sedikitpun kubaca ketika aku membelinya di luar kota hingga saat aku memberikannya untukmu. Aku tak mau tau isinya namun kuharap kamu benar-benar menyukainya sama seperti yang kamu katakan padaku tentang buku tersebut. Aku senang mendengarnya.

Satu hari selanjutnya aku melewati hari dengan seperti biasa sambil sesekali mengintip apa yang kamu pikirkan melalui media chat. Beberapa kesamaan terjadi ketika kita menghabiskan hari libur itu yang diiringi hujan lagi pada malam harinya dengan tidur, makan, nonton, tidur lagi seperti itu sebagai ungkapan balas dendam akan capek yang kita alami setelah melakukan aktifitas kerja berhari-hari lamanya. Hingga seperti yang kuceritakan di awal bahwa aku mendengar kabar tentang kamu yang kurang merasa nyaman dengan sakitmu yang menurutku tidak jelas sakit apa. Ya, aku mencoba dengan tulus kembali berniat ingin membesukmu. Walau sebenarnya kesempatan juga untuk melepas rinduku yang benar-benar rindu menurutku dan terlalu berlebihan menurut versimu karena kita telah bertemu sehari sebelumnya.

Dengan berusaha menepis rasa letihku sehabis kerja karena semangatku lebih besar untuk menemuimu daripada rasa letih itu sendiri. Aku pun mencari-cari sebuah mini market tempat kemarin kamu membelikanku coklat itu. Ini dia pikirku, tiga buah kaleng minuman coffe latte kesukaanmu yang akan segera mengembalikan rasa kurang enak badanmu. Wajah sumringahpun menemani perjalananku menuju rumahmu yang tentu saja aku sudah hapal diluar kepala dimana letaknya. Bodohnya aku ketika menyadari sebuah mini market yang sama berdiri tidak jauh beberapa meter dari rumahmu. Lalu aku menertawai diri sendiri sambil berbelok dan berhenti tepat didepan istana yang tampaknya sederhana namun ditinggali oleh seorang putri yang sangat cantik didalamnya.  Pintunya tertutup rapat seolah tak berpenghuni namun aku cukup lega karena adikmu yang langsung mengenaliku membuakan pintunya lalu berkata kamu sedang keluar sebentar.

Tak lama aku menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama adik-adikmu. Lalu muncullah seseorang yang ku tunggu-tunggu kehadirannya. Ah, masih tetap saja cantik seperti saat tiga setengah tahun yang lalu aku melihatmu pertama kali. Akupun sedikit tersenyum karena kamu katakan sakitmu itu yang sebenarnya sakit biasa-biasa saja. Itulah kamu, selalu jadi apa adanya dengan wajah innocentmu dihadapanku. Cukup lama aku melewati malam ini bersamamu. Banyak hal, ya… banyak hal yang aku dapati mulai dari omelanmu tentang sinetron-sinetron yang menurutku suatu hal yang gak menarik itu, lalu kamu masih tetap asik dengan obrolan di BBM dan YM-mu itu tanpa bermaksud tak menghiraukanku sambil sesekali kita menikmati coffee latte dan sepiring roti yang ada. Tak lama aku membuka obrolan kecil tentang pria yang bersamamu itu. Kamupun terlihat enggan menjawabnya. Aku hanya penasaran dengannya. Bagaimana tentang sikapnya setelah berada diluar kota. Tentang hubunganmu dengannya serta perihal rencana-rencana baikmu kedepan. Dari situ sebenarnya aku langsung berpikir. Oke, kamu lihat aku sedang berpikir jauh setelah obrolan itu. Apa kamu tahu yang aku pikirkan? Ini dia…

Kamu masih tetap mencoba memperbaiki keadaan hubunganmu sendiri dengannya yang artinya tak ada kesempatan buatku untuk bisa mencuri sedikit hatimu untuk kembali memberikan kesempatan padaku memperbaiki kesalahan yang lalu. Pikirkan… apa yang harus aku lakukan setelahnya. Selama dua hari mata sebelah kanan ini berdenyut yang telah ku imani bahwa akan mendapat kabar yang menyakitkan dari seseorang lalu aku akan menangis setelahnya. Aku ceritakan ini dari tadi pagi padamu yang menurutmu akan mendapat kabar baik. Benar-benar aku bukan bukan seseorang yang bergantung dan percaya pada sebuah mitos atau sejenisnya yang menurutku hanya akan menyesatkan saja. Jangan tiru itu walau sendirinya aku jadi sedikit percaya akan hal itu karena inilah buktinya. Aku pulang kerumah, mencoba untuk tidur setelah mencuci muka dan menggosok gigiku. Ah, dinginnya kamar lalu mengajakku untuk tidur tapi tangan ini tetap saja merasa tak tenang untuk tetap mengirimkanmu sebuah pesan melalui chat.

Awalnya aku tak bermaksud untuk sedemikian rupa membahas apa yang ada dipikiranku. Aku cuma ingin  mengucapkan rasa terima kasihku yang besar terhadap kebaikanmu dan keluargamu khususnya yang tidak berubah masih tetap menerima kedatanganku seperti dulu. Oh, perbincangan pun mengalir tanpa henti hingga pembahasan bahwa aku ingin sekali untuk terakhir kalinya mendengar pernyataanmu yang sejujur-jujurnya tentang anggapanmu selama ini tentang usaha dan kegigihanku selama kurang lebih dua tahun dua bulan tetap setia menunggu dan berusaha selalu ada untukmu. Inilah pernyataanmu yang cukup menghancurkan hatiku dan kali ini aku benar-benar terluka hebat.

“Awalnya sebuah iseng belaka aku menjalani hubungan ini dengannya dan dia pun mengetahui hal itu. lama kelamaan rasa sayang itu tumbuh sehingga sampai saat ini pun aku benar-benar menyayangi dia. Walaupun dia telah membuatku kesal setengah mati hingga menyakitiku, namun aku tak tega ketika melihat dia meminta maaf padaku ketika saat itu juga dia menyadari kesalahannya yang telah menyakitiku. Aku pun tak punya kekuatan untuk menolak permohonan maafnya, aku tak ingin melihatnya sedih dan terluka. Aku ingin dia menyadarinya bahwa aku dan dia seharusnya memperbaiki hubungan ini ke arah yang lebih baik lagi dari sekarang. Mungkin kalau saja aku tak sedang menjalani hubungan dengannya saat ini, aku akan lebih serius menanggapi usaha-usahamu untuk kembali padaku. Bahkan ketika seseorang sepertimu yang menurutku sangat baik padaku, yang telah menunjukkan kesungguhan dan usaha kerasnya untuk kembali menata hubungan yang dulu telah berakhir bersamaku pun tak sanggup mengubah pikiranku untuk berpaling darinya. Maafkan aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku jahat sekali ketika menyadari bahwa aku telah membuatmu selalu sedih dan sakit selama ini. Tapi inilah kenyataannya."

Tuhan… aku harusnya menyadari bahwa selama ini kami hanyalah teman biasa yang tak lebih dari layaknya dia dan teman prianya yang lain. Dia selalu berkata dia bingung dengan hubungannya itu. Aku bahkan tak bisa merasakan kasih sayangnya pada pria itu. Aku tak bermaksud mengambil kesempatan dari dilemanya saat ini. Namun, aku bukanlah pria yang mudah menyerah dengan keadaan apapun termasuk usaha untuk kembali merebut perhatiannya selama ini. Aku tulus ikhlas menyayangi dan mencintainya. Panas; hujan, siang; malam, semangat; letih, senang; sedih, jauh; dekat, apapun itu aku hanya ingin membuatnya berpikir bahwa aku akan selalu ada untuknya ketika dia membutuhkanku. Ingin selalu membuatnya bahagia walau bahkan hal itu menyakitkanku, aku tak peduli. Sungguh hanya Tuhan-lah yang tahu itu. Bahkan aku rela mati untuk mendapatkannya. Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini. Aku bukanlah seseorang yang telah kehilangan akal sehat,bahkan aku tak dilahirkan hanya untuk mengharapkan satu cinta saja. Aku bukanlah orang bodoh yang telah melewati waktu selama ini dengan sia-sia hanya untuk mendapatkan kesempatan darinya. Aku pun tak menganggap diriku munafik dengan tidak membuka hati untuk wanita lain. Semuanya telah aku jalani dan aku rasakan serta aku alami selama dua tahun belakangan ini. Banyak sekali liku-liku hidup serta batu kerikil yang menghalangi langkahku selama ini. Namun aku tetap bertahan karena aku sungguh mencintainya. Aku telah mencoba untuk ikhlas menerima kenyataan tapi aku tak berdaya ketika kata-kata itu benar-benar menghancurkan hatiku menjadi sehalus debu.

Pria tak akan menangis karena cinta. Tapi pria juga manusia yang punya hati walau mereka telah dididik dari kecil untuk menjadi pria tangguh yang tak mengenal air mata. Aku sungguh membenci sebuah tangisan. Sungguh-sungguh membencinya. Namun aku menjadi sedikit lebih lega dengan penjelasanmu itu. Setidaknya aku kali ini benar-benar harus bisa melupakanmu dan menerima kenyataannya walau pahit. Aku tak berusaha untuk menghindarimu selanjutnya. Aku akan tetap melangkah pasti meraih impianku dan menjalani hariku dengan berdiri tegap menatap masa depanku yang seharusnya akan lebih baik dari sekarang ini. Aku rindu kamu dan akan selalu merindukanmu. Biarlah rasa sayangku lambat laun kian menipis selayaknya bumi ini makin lama makin renta dimakan usia. Inilah akhir dari cerita antara Aku dan Kamu.

PS : Senangnya ketika coklat itu sempat kubagikan pada mama dan adik kesayanganku yang sedang menggendong bayi perempuannya. Biarlah makna coklat yang pertama dan terakhir sempat dirasakan oleh mereka yang tak akan pernah habis menyayangiku. Dan aku percaya itu.

Pukul. 02.38 WIB dan saat ini hujan menjadi selimut malam yang sangat dingin.