Sabtu, 25 Februari 2012

In Memorial of ...


Selamat jalan Ibu tercinta…
Ku tahu ini adalah akhir dari segala kesakitan, ketakutan, kecemasan, serta kegundahanmu selama ini.
Banyak hal yang sebenarnya masih ingin kulakukan demi membahagiakanmu di usiamu yang senja.
Khilafpun tak luput dari kelalaianku dalam menghabiskan sisa-sisa waktumu.
Engkau adalah satu yang tersisa dari apa yang disebut orang tua setelah Ayah.
Akhirnya sekarang akupun menjadi bagian dari golongan yatim piatu.
Air mata yang jatuh deras tak kuasa kubendung karenanya.
Namun aku akan berusaha untuk tak larut lebih lama.
Karena ku tahu Dia telah menjagamu dan menyelamatkanmu.
Telah kubersihkan, kudoakan, dan kuantar engkau dalam tidur panjangmu hari ini.
Aku tahu itu tak akan pernah cukup membalas segalanya.
Pengorbananmu akan hidupku selama ini memudarkan amarahku.
Perhatian dan kepedulianmu telah meredakan sifat egoku.
Kebaikan dan kasih sayangmu telah menyembuhkan racun kebencian dalam diriku.
Wajah dan senyummu menyirnakan penatku akan hidup.
Semangat dan perjuanganmu mengalahkan kegundahanku akan semua masalah.
Tak ada benci, tak ada penyesalan, tak ada rasa ketidakadilan padamu.
Karena kutau selama ini engkau menyayangi dan mencintaiku.
Aku memohon ampunan, maaf, dan kerelaan darimu atas segala salahku semasa hidupku.
Aku bangga dan bersyukur telah memilikimu dalam usiaku hingga saat ini.
Karena tadi aku telah melihat sosok yang paling cantik, suci dan bersinar dalam pelukanNya.

Selamat jalan Nenek tercinta…
Aku telah terbangun dalam tidurku yang tak nyenyak dan penuh kegelisahan tadi malam.
Sayup-sayup terdengar suara tangisan kesedihan diluar sana berasal dari seorang Ibu.
Rasa gentar dan ketakutan segera menyelimutiku saat itu juga.
Perlahan aku bangkit dan kulangkahkan kaki menuju suara kehilangan.
Bagiku ini terlalu cepat karena waktupun tak cukup rasanya menghapus letihku.
Akupun ikut berduka dan menjumpaimu dalam tidur panjang yang suatu hari akan menemuiku.
Tanpa sadar bulir air mata jatuh menetes saat kulihat wajahmu dibalik kain itu.
Kurasakan tanganmu perlahan dingin dan kaku sembari doa yang kupanjatkan.
Itu adalah sosok terakhir  yang akan kuingat walau kutahu jarang waktuku bersamamu.
Ku turut membersihkan, mendoakan kembali, dan mengantarmu dalam kedamaian.
Terik panas tak dapat mengalahkan langkah kakiku yang mulai gontai.
Karena apapun itu kutahu sebenarnya engkau menyayangiku dan mencintaiku.
Teduh kurasakan karena Dia telah merangkulmu akan semua kebaikan yang telah engaku toreh.

Selamat jalan Eyang tercinta…
Aku hanyalah manusia kecil yang baru lahir dan sungguh tak mengerti apa yang terjadi.
Baru saja kuhembuskan nafas untuk merasakan dunia tapi engkau malah sebaliknya.
Engkau meninggalkan dunia ini tanpa mengenalku dengan baik terlebih dahulu.
Aku tak akan marah, aku tak akan benci, akupun tak akan melupakan.
Karena aku akan mencoba mengenal dan mengingatmu kelak suatu hari.
Walau aku tak sempat menjumpaimu disaat terakhir dan berkata apapun karena aku tak mampu.
Aku telah menitipkan salam sayang dan cintaku padamu melaluiNya.
Tuhan itu maha adil karena ada yang datang dan ada yang pergi.
Sejarahmu akan selalu terukir dan coba kurangkai dalam kata.
Bahwa surgaNya terbuka luas untukmu dan untuk kita semua.
In Memoriam of RA HJ. KHOLIDJAH (1941-2011)
Selasa, 26 Juli 2011 : 02.05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar